5 Kali Gagal Seleksi CPNS, Gantung Diri

Kompas.com - 26/01/2011, 05:48 WIB

MANADO, KOMPAS.com — Hanya gara-gara gagal seleksi calon pegawai negeri sipil, Vino Lengkong (31), warga Desa Koha Jaga 8, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, nekat gantung diri di area perkebunan Koha.

Tangis Meity Roring (54), ibu korban, tak lagi terbendung setelah mengetahui buah hati satu-satunya itu telah meninggal. Meity menangis di antara kerabat yang datang ke rumah untuk menghiburnya.

Seusai dilepas dari tali plastik yang menjerat lehernya, kemudian Vino dibaringkan. Pakaian yang digunakan korban sudah dilepas dan diganti dengan sebuah kemeja dan celana kain hitam.

Warga Desa Koha sontak dikagetkan dengan kematian korban. Warga dan kerabat tampak memenuhi rumah korban.

Felix Lengkong (61), ayah korban, menemukan anaknya tergantung di pohon pala perkebunan tanah merah yang disebut warga dengan nama rangdang. Letaknya kira-kira 1,5 kilometer dari permukiman.

Korban ditemukan menggunakan pakaian hitam dan celana panjang abu-abu, tergantung seutas tali plastik berwarna merah muda. Korban tergantung hanya 20 sentimeter dari atas tanah.

Dikatakan Felix, beberapa hari sebelumnya korban terlihat murung. Tak jarang korban mengatakan tak ingin hidup lagi. Ayah korban mengatakan, korban stres karena sudah lima kali tak lulus seleksi PNS.

"Dia lima kali masuk CPNS tidak pernah tembus. Saya katakan kepadanya, tidak usah kerja PNS, apa saja bisa. Orang buta saja bisa mencari, kenapa harus putus asa," papar Felix, Selasa (25/1/2011).

"Dia selalu bilang, 'So nda ada harapan untuk masa depan'. Kita bilang, ada kesempatan tahun depan tes CPNS lagi," tambahnya.

Felix mengatakan, sikap anaknya sedikit tertutup, saat ditanya apakah ada masalah, korban tak mau mengungkapnya. "Kita tanya, dia selalu jawab papi kan tau tape perasaan," paparnya, meniru perkataan Vino.

Terakhir kali, Felix memandang wajah anaknya dalam keadaan hidup, Senin (24/1/2011). Saat itu, korban berpamitan ingin ke kebun untuk mengambil pisang yang dipetiknya sehari sebelumnya. Felix tak menyangka itu terakhir kali melihat korban hidup.

"Dia bilang, mo ambe pisang sisa da potong kemarin (dua hari lalu). Nda sangka jadi begini," katanya.

Felix mengenang, dua hari lalu mereka sekeluarga berkunjung ke Tomohon. Kendati terlihat biasa, kata Felix, tetapi korban ternyata sudah menyimpan rencana. "Pa dia ada Rp 6.000, sisa uang bayar bakso. Itu uang saya kira dipakai beli tali di warung," tuturnya.

Tubuh korban baru ditemukan sekitar pukul 15.30 Wita. Felix menemukan tubuh korban di antara daun rindang yang menutup pohon pala. Lolongan anjing peliharaan korban bernama Zuko menjadi petunjuk Felix untuk menemukan tubuh korban.

"Kita ketuk tempat fufu (gubuk), tidak jawab. Lalu kita dengar anjing bagonggong seperti menangis. Kita lihat anjing ketakutan terus lari," ujarnya. Ia lantas melihat tubuh anaknya tergantung.

Untuk urusan percintaan, Meity merasa tak ada masalah. Sebab, korban sudah lama putus dengan pacarnya. Meity, ibu korban, mengatakan, anaknya punya banyak pacar. Namun belum sempat punya menantu, Meity pun harus kehilangan anaknya. "Dia so lama putus. Dia banyak punya pacar," katanya.

Kepala Seksi Humas Polsek Pineleng Aiptu Justinus Liroga membenarkan peristiwa tewasnya seorang warga Pineleng. Kendati polisi berupaya menyelidiki lebih lanjut soal kasus ini, tetapi keluarga korban tidak menginginkan tubuh korban diotopsi. (Tribun Manado/Ryo Noor)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau